Kafe remang buat tegang

Kafe remang memang identik dengan para waitress yang seksi dan menggoda. Tak sedikit para lelaki melirik tempat ini sebagai tempat melepas nafsu penat dan lelah setelah seharian berurusan dengan rutinitas. Apalagi jika habis bertengkar dengan istri atau pacar. Dengan ditemani beberapa botol bir masih terasa kurang jika tidak ditemani dengan waitress yang berani menggoda.

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menikmati nuansa kafe remang ini dengan beberapa teman yang sudah familiar di dunia bisnis online. Kami ber empat saat itu memesan tempat di salah satu kafe di daerah sanur. Awalnya kami ingin sharing tentang tips dan trik seputar bisnis online yang kami jalani. Tapi seiring waktu yang makin malam ditambah dengan bir yang makin banyak, dan ditemani oleh waitress yang penuh pengalaman, akhirnya topik pembicaraan kami berganti halauan. Mulai dari tanya-tanya nomor celana dalam nomor HP hingga ke arah yang lebih serius “udah punya cowok belum?”

Meski salah satu dari kami tidak minum bir hanya memesan the botol (untung bukan wedang jahe) tetapi ia tidak mau ketinggalan bergerilya. Layaknya tentara yang sedang bergerilya tanganya pun ikut kemana-mana. Malam makin larut, musik yang tadinya melankolis mulai berganti dengan house music yang membuat tangan makin aktif. Waitress yang menemani kami pun makin liar dan berani (berani memukul dengan lembut tangan kami yang mulai kehilangan arah). Kami ber empat saling lirik seakan tau ke arah mana setelah kafe ini tutup.

Setelah DJ mengucapkan terima kasih kepada para tamu itu berarti kafe akan segera tutup. Kami pun mulai ngelanjor (ngelamun jorok) apa yang terjadi nanti jika kami berhasil mengajak para gadis-gadis muda ini keluar. Setelah bill dibayar kami mulai melancarkan serangan kedua. Dengan dalih mengajak makan, melanjutkan ke tempat hiburan lainnya yang masih buka hingga ingin menjadi pacar mereka, kamipun tak henti-hentinya bercuap-cuap. Waktu yang ditunggu-tunggupun datang juga. Dan……tak satupun dari mereka yang mau menemani kami keluar. Apa karena kami yang kurang pengalaman atau mereka para waitress yang sudah banyak pengalaman akhirnya kami pulang dengan tangan hampa dan “adik” kami yang kecewa
. Inilah yang saya sebut sebagai kafe remang hanya bisa buat “tegang” tanpa ada penyelesaian. Happy ending yang saya bayangkanpun melayang sudah. Mungkin lain waktu akan saya tunggu saja trik-trik dari pakar lendir agar kedepan tidak sia-sia lagi dengan tangan hampa.

0 comments: